Selasa, 08 Desember 2015

Ukir Gagasanmu dalam Kata

Ciut Nyali

Matahari merambat hampir tegak lurus di atas kepala. Anton merasakan hawa panas mulai menyergap tubuhnya saat ia keluar dari garasi. Tangannya sibuk menutup kepala seolah takut terbakar cahaya layaknya Drakula disiang hari. Setelah mengikatkan ujung kedua tali tudung kepala, ia meraba saku jaket kanannya. Meyakinkan dirinya bahwa pisau yang disiapkannya sudah berada di saku. Ia melangkah agak terburu-buru. Yang ada dalam benaknya, secepat mungkin ia dapat mengambil sepeda motor Ninjanya.
“Anton, ngopi dulu, sini!
“Makasih. Aku ditunggu orang!”
Sapaan itu semakin membuat Anton melangkah dan melangkah. Hatinya berdebar. Dia merasa niatnya sudah tercium. Meskipun begitu kakinya tetap melangkah. Lima langkah lagi ia akan sampai di perempatan kecil. Ia ingin segera sampai. Akhirnya ia berlari kecil menuju ke sana. Begitu sampai di perempatan ia segara berbelok ke kiri. Berhenti. Napasnya memburu niatnya. Tiba-tiba rasanya seperti telah berlari sepuluh kilometer. Sial. Kenapa harus ketahuan Jimmy. Padahal selama ini Jimmy tidak pernah ada di rumahnya pada waktu seperti saat ini. Ya udahlah. Suaranya hatinya begaung dirongga kepalanya. Diiringi dengan dentuman jantung yang kian lama mengecil. Beberapa menit kemudian ia menegakkan tubuhnya dan mengambil langkah cepat kembali.
Di depan ruko yang telah kosong Anton menata napasnya kembali. Ia meraba saku jins-nya. Sebuah kunci telah berpindah di tangan kanannya. Seperti melihat hantu yang mengejarnya ia memasukkan kunci dan segera mendorong pintu. Udara pengap menusuk hidungnya. Cahaya matahari sedikit menyibak kegelapan ruangan itu. Ia dapat melihat sepeda motornya sudah menunggu di sudut ruang. Ia memutar kontak yang sengaja ditinggal dispedanya. Bremmm... geraman motor melanda ruangan itu. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar