Minggu, 20 Maret 2016

SISI LAIN

Untuk pertama kalinya selama duapuluh tujuh tahun, aku menginjakkan kakiku di wilayah yang bernama kompleks. Bukan kompleks perumahan atau kompleks tentara, tetapi kompleks pelacuran. Begitu aku melewati pintu gerbang yang benama kompleks itu, semua ingatanku menyerang kepala: semua cerita yang pernah aku dengar tentang kompleks. Bahwa kompleks itu menjijikkan namun membangunkan binatang yang tidur dalam diriku. Begitu melanjutkan langkah lebih dalam, maka bau semerbak wangi yang beraneka macam mulai menusuk hidungku. Mataku tiak bisa kukendalikan. Setiap kali melirik kudapati hentakan gairahku yang menggelagak. Semua bentuk perempuan terwakili di sini, di tempat yang namanya kompleks. Rasa Penasaran membawaku masuk lebih dalam, dan gairahku terpancing lebih menggelora, maka keberanian mataku kian menjadi. Mataku hanya nanar pada bukit-bukit yang melekat pada tubuh yang liku lekuknya bagaikan gadis ranum berusia belasan atau paling tidak awal dua-puluhan. Lekuk itu adalah lekuk ideal yang digambarkan bidadari surga yang dijanjikan. Aku menepis rasa bersalah soal lekuk tubuh seperti itu. Mataku tidak akan salah jika baku liat dengan pandangan seperti itu. Binatang dalam diriku memang diciptakan untuk menikmati hal tersebut. Tuhan tidak akan menghukumku hanya karena aku menemukan satu pemandangan yang menjaga keseimbangan anatara malaikat dan setan dalam tubuh manusia. Salahalah bagi mereka karena kepentingannya yang tidak terwakili mengaku sebagai pembela perempuan yang seharusnya diperlakukan sebagai manusia bukan sebagai alat. Yah mungkin mereka benar, tetapi benar dihadapan siapa. Jika mereka bertanya kepada Tuhan, mereka akan mendapatklan jawabana seperti apa yang aku katakana tadi. Atau setidaknya mereka akan memahami bahwa jawabannya ada pada lelaki. Belum begitu nyaman benar lobus frontal-ku berada di tengah-tengah surga bagi system limbic-ku yang segera mencari jalan keluar demi pelepasan ketegangan yang semakin mengencang. Aku mamahami benar bahwa ketegangan yang secara spontan tanpa bisa kita control adalah alamiah. Itulah saatnya kenikmatan mula beraksi merambat pelahan memenuhi seluruh syaraf. Gerakan tersebut akan mencapai puncaknya ketika ujung syaraf tidak bisa mengontrol lagi, maka ledakan besar membahana menggetarkan seluruh kehidupan syaraf di seluruh jagat tubuh. Kenikmatan yang luar biasa yang dicari dari dunia hingga akhirat. Atau kata pada cerdik pandai, itu merupakan rasa yang sedikit saja diturunkan ke bumi. Dan meskipun itu teori tetapi kenyataaanya hal itu diturunkan oleh Tuhan untuk dirasakan, bukan untuk dikekang hanya karena ingin sesuatu yang suci. Padahal itulah sebenarnya pengakuan akan adanya Tuhan. Baiklaha saya tidak mau membebani pikiranku dengan teori semcama itu lagi. Yang aku rasakan celanaku semakin sempit. Suasana hiruk-pikuk, gemerap kelap kelip sesekali terlihat aurat yang menggairahkan menambah ketegangan semakin meningkat kuat. Ini lah perhiasan-perhiasana yang mampu mengguncang keteguhan ideolgi. Apapun bentuk ideologi itu. Hanya sekarang tinggal menentukan sampai seberapa lama aku mampu menahan desakan binatang dalam diriku yang semakin menggila. Tersentuh sedikit saja, aku akan mencari jalan pelepasan yang sempurna. Sekarang aku mencari obyek yang benar-benar pas yang mampu menjadi pelatuk ujntuk meledakkan tegangan yang menjadi semakin panas. Bau alkohol menjadi semakin melenakan akal sehat. Meskipu demikian aku masih mampu menahan detakan jantung binatangku hingga suatu saat aku dihentikan bidadari yang mampu membiusku dan tentunya membuat keteganganku semakin ketat. Bahkan mungkin letupan kecil telah terjadi hingga membuat basah. Dia mengatakan apakah aku mau mancari seseorang yang akan membatuku mengeluarkan nafsu bejatku. Ya tentu saja kataku dengan perasanaan canggung yang tanpa rekasayasa. Tiba-tiba ciumannya mendarat di leherku, aku semakin kehilangan kekuatan untuk bertahan diam. Tidak ada rekayasa dalam gerakkanku. Aku menghimppit tubuh montoknya diantara kedau tangan dan tubuhku. Aku meremas pantatnya! Dia membibingku menuju kamar yang berjajar sepanjang gang dalam rumah itu.

Selasa, 08 Desember 2015

Ketika Agama berubah menjadi Jahat

Buku Clash of Civilation (CoC)karya megah Samuel P. Huntington akan selalu diingat disaat kita mendengar kata Agama. CoC is a theory that people's cultural and religious identities will be the primary source of conflict in the post-Cold War world (wikipedia) Dan, ketika konflik itu muncu di permukaan, maka yang tampak dalam analogi adalah hitam-putih, baik-buruk, dan malaikat-setan. Klik kata Agama di atas, dan silakan melanjutkan renungan setelah Samuel.

Ukir Gagasanmu dalam Kata

Ciut Nyali

Matahari merambat hampir tegak lurus di atas kepala. Anton merasakan hawa panas mulai menyergap tubuhnya saat ia keluar dari garasi. Tangannya sibuk menutup kepala seolah takut terbakar cahaya layaknya Drakula disiang hari. Setelah mengikatkan ujung kedua tali tudung kepala, ia meraba saku jaket kanannya. Meyakinkan dirinya bahwa pisau yang disiapkannya sudah berada di saku. Ia melangkah agak terburu-buru. Yang ada dalam benaknya, secepat mungkin ia dapat mengambil sepeda motor Ninjanya.
“Anton, ngopi dulu, sini!
“Makasih. Aku ditunggu orang!”
Sapaan itu semakin membuat Anton melangkah dan melangkah. Hatinya berdebar. Dia merasa niatnya sudah tercium. Meskipun begitu kakinya tetap melangkah. Lima langkah lagi ia akan sampai di perempatan kecil. Ia ingin segera sampai. Akhirnya ia berlari kecil menuju ke sana. Begitu sampai di perempatan ia segara berbelok ke kiri. Berhenti. Napasnya memburu niatnya. Tiba-tiba rasanya seperti telah berlari sepuluh kilometer. Sial. Kenapa harus ketahuan Jimmy. Padahal selama ini Jimmy tidak pernah ada di rumahnya pada waktu seperti saat ini. Ya udahlah. Suaranya hatinya begaung dirongga kepalanya. Diiringi dengan dentuman jantung yang kian lama mengecil. Beberapa menit kemudian ia menegakkan tubuhnya dan mengambil langkah cepat kembali.
Di depan ruko yang telah kosong Anton menata napasnya kembali. Ia meraba saku jins-nya. Sebuah kunci telah berpindah di tangan kanannya. Seperti melihat hantu yang mengejarnya ia memasukkan kunci dan segera mendorong pintu. Udara pengap menusuk hidungnya. Cahaya matahari sedikit menyibak kegelapan ruangan itu. Ia dapat melihat sepeda motornya sudah menunggu di sudut ruang. Ia memutar kontak yang sengaja ditinggal dispedanya. Bremmm... geraman motor melanda ruangan itu. (bersambung)